Minggu, 01 Mei 2011

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN VERTEBRATA MORFOLOGI, IDENTIFIKASI DAN KUNCI DETERMINASI REPTILIA

LAPORAN PRAKTIKUM

TAKSONOMI HEWAN VERTEBRATA

MORFOLOGI, IDENTIFIKASI DAN KUNCI DETERMINASI REPTILIA


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reptilia adalah kelompok hewan vertebrata yang hidupnya merayap atau melata di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin, yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Walaupun berdarah dingin reptil melakukan pembiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates) yang kering atau tanpa kelenjer. Umumnya reptil mempunyai dua pasang kaki, masing-masing mempunyai lima jari yang bercakar, tetapi pada jenis-jenis tertentu kakinya mereduksi atau sama sekali tidak ada. Rangka dari bahan tulang, oksipital, kondil hanya satu. Tipe gigi pada reptil adalah labyrinthodont (pada reptile fosil), acrodont, pleurodont, dan thecodont. Jantungnya mempunyai empat ruangan, dua atrium dan dua ventrikel, tetapi pada sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum sempurna benar. Habitat hidup di darat, air tawar atau air laut, di daerah tropis dan daerah temperate (Carr,1977).

Reptilia tidak mempunyai banyak kelenjar pada kulitnya. Pada serpentes terdapat modifikasi dari labial gland di rahang atas. Sedangkan pada squmata, satu-satunya spesies yang mempunyai kelenjar racun, dimana kelenjar racun adalah modifikasi sublingual gland. Pada Crocodylia dan Chelonia lidahnya tidak bisa dijulurkan, hanya pada dasar mulut digunakan untuk menelan. Pada squamata, lidah pada bagian depan sempit dan bisa ditarik ke bagian belakang. Pada Serpentes, lidah sempit dan bertakik dalam yang pada bagian ujungnya bertindak sebagai organ sensori untuk merasakan bau dan suhu (Penuntun Praktikum Taksonomi Hewan Vertebrata, 2010).

Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastic (Brotowidjoyo, 1989).

Reptil terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau Tuatara, Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira, cryptodira, paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan serpentes (ular). Sub ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan crocodilidae (Pope, 1956). Oleh karena itu, untuk membuat suatu system klasifikasi diperlukan adanya pengamatan morfologi. Dari pengamatan morfologis dapat diukur parameter morfologinya sehingga dapat dilakukan pengindentifikasiannya dan berakhir dengan pembuatan kunci determinasi dari reptil.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum taksonomi hewan vertebrata dengan objek kelas reptilia ini adalah untuk mengenal morfologi jenis-jenis dari reptilia, melakukan identifikasi dan membuat kunci determinasi dari jenis-jenis tersebut.

1.3 Tinjauan Pustaka

Reptilia adalah hewan yang mempunyai kulit yang kering, ditutupi oleh sisik, mempunyai dua pasang ekstermitas luar yang dilengkapi dengan jari-jari dan berakhir dengan cakar. Reptilia tidak mempunyai banyak kelenjer pada kulitnya, kelenjer pada reptilian terdapat pada rongga mulutnya. Kelenjer parapin pada langit-langit mulut, lingual gland pada lidah, sub lingual gland (kelenjer dibawah lidah) dan labial gland (pada bibir). Pada serpentes terdapat modifikasi dari labial gland di rahang atas. Lidah pada serpentes sempit dan bertakik dalam yang pada bagian ujungnya bertindak sebagai organ sensori untuk merasakan bau, suhu dan partikel zat yang ada pada udara (Tim Taksonomi Hewan Vertebrata, 2010).

Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub ordo tertentu mengalami pergantian kulit . Pergantian kulit secara total terjadi pada anggota sub-ordo ophidia dan pada anggota sub-ordo lacertilia pergantian kulit terjadi secara sebagian. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Jasin, 1992).

Reptile terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau Tuatara, Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira, cryptodira, paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan serpents (ular). Sub ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan crocodilidae (Goin, 1971)

Ordo Rhynchocephalia diketahui berdasarkan catatan fosil pada Era Triasik Akhir yaitu antara 210 – 220 juta tahun yang lalu. Ordo Rhynchocephalia memiliki tipe tengkorak diapsid. Morfologinya mirip dengan anggota lacertilia dan panjang dewasanya mencapai 30 cm. Anggota ordo ini semuanya karnivora dan mencari makan di malam hari. Habitat hidupnya di air atau di daratan. Ordo Rhynchocephalia bereproduksi secara ovipar dengan fertilisasi internal. Telurnya ditempatkan dalam suatu lubang seperti kebanyakan anggota Kelas Reptilia lainnya dan menetas dalam waktu 1 tahun (Anonymous, 2010b).

Adapun ciri-ciri umum anggota ordo Squamata antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kultikula baru di bawah lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit/ sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian. Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum. Anggota squamata memiliki tulang kuadrat, memiliki ekstrimitas kecuali pada Subordo Ophidia, Subordo Amphisbaenia, dan beberapa spesies Ordo Lacertilia. Perkembangbiakan ordo squamata secara ovovivipar atau ovipar dengan vertilisasi internal. Persebaran Squamata sangat luas, hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Arktik, Antartika, Irlandia, Selandia Baru, dan beberapa pulau di Oceania (Weber, 1915)

Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastic (Brotowidjoyo, 1989).

Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor. Ada sebagian famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa (Yatim, 1985).

Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu Aglypha (tidak memiliki gigi bisa) Contohnya pada Famili Pythonidae, dan Boidae. Proteroglypha (memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka). Contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae. Solenoglypha (memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat tidak dibutuhkan). Contohnya pada Famili Viperidae. Ophistoglypha (memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya) Contohnya pada Famili Hydrophiidae ( Djuhanda, 1983).

Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya, yaitu Haemotoxin merupakan bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini adalah Colubridae dan Viperidae. Cardiotoxin merupakan bias yang dapat menyerang pembuluh darah dan juga jantung dengan cara melemahkan otot-otot jantung sehingga detaknya melambat dan akhirnya dapat berhenti. Contoh famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik, dalam arti banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini. Neurotoxin merupakan bisa yang menyerang syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh famili yang memiliki bisa tipe ini (Iskandar, 2000).

Sub ordo serpentes memiliki empat family yaitu Elaphidae, Colubridae, Viperidae, dan Hidropidae. Elapidae merupakan famili yang anggotanya kebanyakan ular berbisa yang banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis.terdiri dari 61 genus dengan 231 spesies yang telah diketahui. Biasanya memiliki gigi bisa tipe Solenoglypha dan ketika menutup gigi bisanya akan berada pada cekungan di dasar bucal. Bisa tipe neurotoxin. Dekat kekerabatannya dengan Famili Hydrophiidae. Pupil mata membulat karena kebanyakan merupakan hewan diurnal. Famili ini dapat mencapai ukuran 6m (Ophiophagus hannah) dan biasanya ovipar namun adapula yang ovovivipar (Hemachatus) ( Bennet, 1999).

Famili Colubridae memiliki ciri yang dapat membedakan dengan famili yang lain diantaranya sisik ventralnya sangat berkembang dengan baik, melebar sesuai dengan lebar perutnya. Kepalanya biasanya berbentuk oval dengan sisik-sisik yang tersusun dengan sistematis. Ekor umumnya silindris dan meruncing. Famili ini meliputi hampir setengah dari spesies ular di dunia. Kebanyakan anggota famili Colubidae tidak berbisa atau kalaupun berbisa tidak terlalu mematikan bagi manusia. Gigi bisanya tipe proteroglypha dengan bisa haemotoxin Genusnya antara. lain: Homalopsis, Natrix, Ptyas, dan Elaphe ( Djuhanda, 1982).

Famili Viperidae memiliki gigi bisa solenoglypha dengan bisa jenis haemotoxin. Famili ini kebanyakan merupakan ular terran yang hidup di gurun. Namun ada pula yang hidup di daerah tropis. Tersebar hampir di seluruh dunia. Sisiknya biasanya termodifikasi menjadi lapisan tanduk tebal dengan pergerakan menyamping. Memiliki facial pit sebagai thermosensor. Kebanyakan anggota familinya merupakan hewan yang ovovivipar dan beberapa ada yang bertelur. Subfamili yang ada di Indonesia adalah Crotalinae yang terdiri dari 18 genus dan 151 spesies (Weber, 1915).

Hydrophiidae merupakan famili dari ular akuatik yang memiliki bisa yang tinggi. Tipe gigi bisa yang dimiliki anggota famili ini kebanyakan Proteroglypha dengan tipe bisa neurotoxin. Biasanya warnanya belang-belang dan sangat mencolok. Bagian ekor termodifikasi menjadi bentuk pipih seperti dayung yang befungsi untuk membantu pergerakan di air. Persebaran anggota famili ini di perairan tropis yaitu kebanykan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bagian barat. Untuk spesies Pelamis platurus persebarannya hingga Samudra Pasifik Timur dan untuk Aipysurus laevis cenderung untuk hidup di daerah terumbu karang. Kebanyakan hidup di dasar laut dengan sesekali naik ke permukaan untuk bernafas (Iskandar, 2000).

Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Ular dapat diketemukan di gunung, hutan, gurun, dataran rendah, lahan pertanian, lingkungan pemukiman, sampai ke lautan. Sebagaimana hewan berdarah dingin, ular semakin jarang diketemukan di tempat-tempat yangdingin seperti puncak-puncak gunung dan daerah padang salju atau kutub ( Djuhanda, 1983).

Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya berkelana di pepohonan dan hampir tidak pernah menyentuh tanah. Ada jenis lainnya yang hidup melata di atas permukaan tanah atau menyusup-nyusup di bawah serasah atau tumpukan bebatuan. Sementara sebagian yanglain hidup akuatik atau semi akuatik di sungai-sungai, rawa, danau dan laut (Brotowidjoyo, 1989).

Kebanyakan jenis ular berkembang biak dengan bertelur. Jumlah telurnya bisa beberapa butir saja hingga puluhan dan ratusan. Ular meletakkan telurnya di lubang-lubang tanah, gua, lubang kayu lapu, atau di bawah timbunan daun-daun kering. Beberapa jenis ular diketahui menunggui telurnya hingga menetas. Sebagian ular, seperti ular kadut belang, ular pucuk dan ular bangkai laut, melahirkan anaknya. Melahirkan disini tidak seperti pada mamalia, melainkan telurnya berkembang dan menetas di dalam tubuh induknya (ovovivipar), lalu keluar sebagai ular kecil-kecil. Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau ular kawat Rhampotyphlops braminus, sejauh ini hanya diketahui yang betinanya saja. Ular kecil yang seperti cacing ini diduga mampu bertelur dan berkembang biak tanpa ular jantan ( Jafnir, 1985).

. Ular memangsa berbagai jenis hewan aquatic seperti ikan, kodok, berudu. Ular besar seperti sanca kembung atau Python reticulata dapat memangsa kambing, kijang, ruda bahkan manusia.Ular mengunjah mangsanya bulat-bulat artinya tanpa dikunyah menjadi keeping-keping yang lebih kecil, agar lancer mengunyah maka ular memilih menelan mangsanya dengan kepala lebih dahulu. Ular sanca kembung atau Python reticulate membunuh mangsanya dengan cara melilitnya hingga tak bernafas. Ular-ular berbisa membunuh mangsanya dengan bisa yang dapat melumpuhkan system saraf, pernafasan dan jantung dalam beberapa menit saja. Untuk mengidentifikasi ular yang paling akurat adalah dengan melihat sisik di kepalanya. Cara lain adalah dengan melihat bentuk morfologi tibuhnya dan motif pada sisiknya (Goin, 1971).

II.PROSEDUR KERJA

2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum tentang morfologi dan kunci determinasi reptilia ini dilaksanakan pada hari Senin, 19 April 2010 di Laboratorium Taksonomi Hewan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Padang.

2.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bak bedah, vernier kaliper, penggaris, tabel pengamatan dan alat-alat tulis. Bahan yang digunakan adalah Boiga cynodon (anjing bergigi cat snake), Dendrelaphis pictus (ular tambang), Gonyosoma oxycephalum (ular hijau), Maticora bivirgata, Tropidolaemus wagleri, Opisthotropis rugosa, Xenodropis triangularis dan kloroform 10 %.

2.3 Cara Kerja

Bahan-bahan atau semua objek yang ada diletakkan pada bak bedah dengan posisi kepala di sebelah kiri. Diamati, digambar dan dilakukanlah pengukuran serta penghitungan terhadap setiap karakter ular tersebut seperti panjang kepala (PK), panjang ekor (PE), panjanng total (PT), diameter mata (DM), panjang moncong (PM), bentuk kepala (BK), sisik temporal (ST), bentuk rostal (BR), loreal pit (LP), bentuk pupil (BP), bentuk tubuh (BT), bentuk sisik lingkar badan (BSLB), bentuk sisik kepala (BSK), bentuk sisik ekor (BSE), jumlah sisik infra okuler (JSIO), jumlah sisik supra okuler (JSSO), sisik loreal (SL), jumlah sisik infra labial (JSIL), jumlah sisik supra labial (JSSL), jumlah sisik lingkar badan (JSLB), jumlah sisik ventral (JSV), jumlah sisik ekor (JSE). Setelah seluruh parameter tersebut diukur, kemudian dibuat klasifikasi dan kunci determinasi dari spesies-spesies ular yang ada.

III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Deskripsi

3.1.1 Boiga cynodon (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub Ordo : Serpentes

Family : Colubridae

Genus : Boiga

Spesies : Boiga cynodon (Boie, 1827)

Vern name : Anjing bergigi cat snake

Ciri yang teramati dari Boiga cynodon adalah memiliki panjang kepala (PK) 44,8 mm, panjang ekor (PE) 410 mm, panjanng total (PT) 1890 mm, diameter mata (DM) 8,5 mm, panjang moncong (PM) 40,5 mm. Boiga cynodon memiliki bentuk kepala (BK) non trigular, , bentuk rostal (BR) tumpul, bentuk pupil (BP) vertikal, bentuk tubuh (BT) tipikal, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak ada. Boiga cynodon memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 1 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 1 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 16 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 9 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 39 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 288 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 140 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Anoyomous (2010a) bahwa Boiga cynodon memiliki panjang badan antara 1800 mm sampai 2750 mm besar. Memiliki tubuh yang agak cokelat muda dengan palang-palang cokelat atau hitam yang gelap menjadi relatif lebih tebal ke arah ekor. Boiga cynodon biasanya hidup di pohon-pohon hutan hujan dataran rendah

Boiga cynodon ketika menyerang biasanya tidak menggigit. Tetapi apabila Boiga cynodon mengigit maka akan, pembengkakan dan nyeri akan terasa di daerah luka. Hal ini dapat menyebabkan masalah sirkulasi. Namun, ini hanya terjadi jika racun gigitan ular yang kuat dan pijat ke luka. Gigitan pertahanan diri tidak berbahaya (Iskandar, 2000).

3.1.2 Dendrelaphis pictus (Gmelin, 1789)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub Ordo : Serpentes

Family : Colubridae

Genus : Dendrelaphis

Spesies : Dendrelaphis pictus (Gmelin, 1789)

Vern name : Ular tambang

Ciri yang teramati dari Dendrelaphis pictus adalah memiliki panjang kepala (PK) 20 mm, panjang ekor (PE) 30 mm, panjanng total (PT) 845 mm, diameter mata (DM) 3,7 mm, panjang moncong (PM) 7,1 mm. Dendrelaphis pictus memiliki bentuk kepala (BK) medium , bentuk rostal (BR) bulat, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak ada. Dendrelaphis pictus memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 6 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 10 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 9 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 11 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 174 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 143 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Anonymous (2010c) bahwa Dendrelaphis pictus merupakan ular yang kurus ramping, panjang hingga sekitar 800 sampai 1500 Ekornya panjang, mencapai sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan. Dendrelaphis pictus mempunyai warna tubuh coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung. Pada masing-masing sisi tubuh bagian bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan dari sisik ventral (perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu, diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher bagian belakang. Terdapat warna-warna peringatan berupa bintik-bintik hijau terang kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka, yang biasanya tersembunyi di bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru nampak jelas apabila si ular merasa terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan atau kehijauan.

Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret di bagian tengah tubuh, sisik-sisik vertebral membesar, namun tak lebih besar dari deret sisik dorsal yang pertama (terbawah). Perisai labial 9 buah (jarang 8 atau 10), yang no 5 dan 6 (kadang-kadang juga yang no 4) menyentuh mata. Sisik-sisik ventral 167–200 buah, sisik anal sepasang, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 127–164 buah. Mata besar, diameternya sama panjang dengan jaraknya ke lubang hidung. Anak mata bulat hitam; perisai preokular sebuah dan postokular dua buah. Perisai rostral lebar, terlihat dari sebelah atas; perisai internasal sama panjang atau sedikit lebih pendek dari perisai prefrontal; perisai frontal sama panjang dengan jaraknya ke ujung moncong, namun lebih pendek dari perisai parietal; perisai loreal panjang. Perisai temporal bersusun 2 + 2, 1 + 1 atau 1 + 2. Lidahnya berwarna merah (Weber, 1915).

Dendrelaphis pictus menghuni hutan-hutan di dataran rendah dan pegunungan hingga ketinggian lebih dari 1350 m. Teristimewa ular ini menyukai daerah-daerah terbuka, tepian hutan, kebun, semak belukar dan tepi sawah. Sering pula ditemukan merambat di pagar tanaman di pekarangan, dan dengan gesit dan tangkas bergerak di sela-sela daun dan ranting untuk menghindari manusia. Dendrelaphis pictus aktif pada siang hari, mencari mangsa makanannya - terutama kadal dan katak (Anynomous, 2010a).

3.1.3 Gonyosoma oxycephalum (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Family : Colubridae

Genus : Gonyosoma

Spesies : Gonyosoma oxycephalum (Boie, 1827)

Vern name : Ular hijau

Ciri yang teramati dari Gonyosoma oxycephalum adalah memiliki panjang kepala (PK) 38 mm, panjang ekor (PE) 376 mm, panjanng total (PT) 1143 mm, diameter mata (DM) 5 mm, panjang moncong (PM) 28 mm. Gonyosoma oxycephalum memiliki bentuk kepala (BK) non neck , bentuk rostal (BR) tumpul, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) tidak ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak ada Gonyosoma oxycephalum memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 10 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 5 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 10 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 2 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 23 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 242 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 137 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Anynomous (2010d) bahwa Gonyosoma oxycephalum merupakan ular yang bertubuh panjang dan ramping dengan panjang total hingga 1140 mm dan ekornya sekitar 370 mm. Kepala agak gepeng dan meruncing, pangkalnya lebih lebar dari lehernya. Gonyosoma oxycephalum mempunyai dominan hijau atau hijau terang di sepanjang punggungnya, dan kuning di sepanjang perutnya. Kepala hijau kekuningan, hijau zaitun atau kecoklatan di sebelah atas, dengan garis hitam melintasi mata, serta bibir yang berwarna kekuningan. Ekor kemerahan atau coklat muda keabu-abuan; terkadang dengan cincin kuning atau merah terang di dekat anusnya. Sisik-sisik bertepi kuning atau gelap kehitaman.

Sisik-sisik dorsal (punggung) dalam 23, 25, atau 27 deret di tengah badan halus atau berlunas lemah. Sisik-sisik ventral (perut) 236–262 buah menyudut di sebelah luar serta berlunas dan bertakik dangkal, sangat berguna untuk memanjat pohon. Sisik anal terbelah, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 130–149 (126–149) buah. Perisai labial atas (sisik-sisik besar di bibir atas) 7–10 buah, yang ke-5 dan -6, atau ke-6 dan -7, menyentuh mata (Brotowidjoyo, 1989).

Gonyosoma oxycephalum bergerak dengan lincah dan tangkas di dahan-dahan dan ranting dan sesekali turun ke tanah. Bila marah karena merasa terganggu, leher ular ini akan memipih tegak dan lidahnya yang bergaris biru terang digerakkan keluar masuk dengan cepat. Gigitannya menyakitkan, meskipun tidak membahayakan manusia karena ular ini hanya berbisa lemah Gonyosoma oxycephalum ditemukan mulai dari dataran rendah hingga wilayah pegunungan, Hewan melata ini diketahui menghuni wilayah berawa-rawa, hutan bakau, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, semak belukar, daerah pertanian dan perkebunan, hingga ke lingkungan pekarangan rumah di pedesaan. Ular yang aktif di siang hari (diurnal) ini tidak jarang dijumpai di tutupan vegetasi di sekitar sungai dan kolam (Anynomous, 2010c).

3.1.4 Maticora bivirgata flaviceps (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptili

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Family : Elapidae

Genus : Maticora

Spesies : Maticora bivirgata flaviceps (Boie, 1827)

Ciri yang teramati dari Maticora bivirgata adalah memiliki panjang kepala (PK) 10 mm, panjang ekor (PE) 53 mm, panjanng total (PT) 440 mm, diameter mata (DM) 10 mm, panjang moncong (PM) 40 mm. Maticora bivirgata memiliki bentuk kepala (BK) non neck , bentuk rostal (BR) bulat, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) , sisik loreal (SL) dan loreal pit (LP) tidak ada. Maticora bivirgata memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 6 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 6 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 6 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 215 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 228 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 85 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Weber (1915) bahwa Maticora bivirgata merupakan ular yang memiliki panjang tubuh sekitar 400 mm sampai 1400 mm. Tubuh berwarna biru gelap, dengan garis biru ringan di setiap sisinya kepala, ekor dan permukaan perut berwarna merah cerah. Memiliki moncong tumpul dengan sepasang mata kecil di sisi kepala.

Maticora bivirgata mendiami lantai hutan primer, tetapi juga dapat ditemukan di hutan sekunder dewasa.. Malam hari dalam kebiasaan, mungkin kadang-kadang ditemui membentang di jalan hutan di pagi hari. Maticora bivirgata membela dirinya dengan membalikkan tubuhnya sehingga akan terlihat warna merah pada perutnya, hal ini menjadi peringatan bagi predator atau menyembunyikan kepala di bawah gulungan tubuh sendiri dan meningkatkan ekornya untuk meniru kepala untuk membingungkan predator. Mereka kadang-kadang mengkonsumsi kadal, katak dan burung (Carr,1977).

Racun pada Maticora bivirgata biasanya bersifat neurotoksik yang dapat menyebabkan kematian. Kematian dapat terjadi hanya 5 menit. Gigitan pada awalnya memiliki sedikit atau bahkan tanpa gejala. Namun, setelah beberapa menit, korban mungkin merasa sakit pada daerah luka. Tak lama kemudian, korban mungkin akan merasa sesak napas. Kematian adalah akibat kegagalan pernapasan (Goin, 1971).

3.1.5 Tropidolaemus wagleri ( Boie , 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Family : Viperidae

Genus : Tropidolaemus

Spesies : Tropidolaemus wagleri ( Boie , 1827)

Ciri yang teramati dari Tropidolaemus wagleri adalah memiliki panjang kepala (PK) 30 mm, panjang ekor (PE) 89 mm, panjanng total (PT) 650 mm, diameter mata (DM) 30 mm, panjang moncong (PM) 30 mm. Tropidolaemus wagleri memiliki bentuk kepala (BK) segitiga , bentuk rostal (BR) runcing, bentuk pupil (BP) vertikal, bentuk tubuh (BT) slouth, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) imbrilated, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) tidak ada, loreal pit (LP) ada. Tropidolaemus wagleri memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 9 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 4 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 139 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 41 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Bennet (1999) bahwa Tropidolaemus wagleri memiliki panjang total sekitar 650 mm sampai 1000 mm. Spesies ini seksual dimorfik .Mereka memiliki kepala besar berbentuk segitiga, Tropidolaemus wagleri muda berwarna hijau pucat terutama dengan band sempit, dan Tropidolaemus wagleri dewasa berwarna hijau gelap kekuningan dengan pita tebal

Tropidolaemus wagleri merupakan ular yang nokturnal dan arboreal, sangat lamban karena mereka bergerak untuk sisa jangka waktu yang lama menunggu mangsa lewat.. Ketika mangsa tidak lewat, atau jika terganggu, mereka dapat menyerang dengan cepat. mereka adalah racun yang kuat hemotoxin , tetapi tidak fatal bagi manusia. Tropidolaemus wagleri hutan primer, hutan sekunder matang dan hutan bakau.Mereka ditemukan dalam berbagai warna dan pola, sering disebut sebagai fase. Di masa lalu, beberapa peneliti tahapan yang berbeda diklasifikasikan sebagai subspesies . Fase sangat bervariasi dari memiliki warna hitam atau cokelat sebagai dasar, dengan oranye dan kuning banding kepada orang lain memiliki lampu hijau sebagai warna dasar, dengan variasi pita kuning atau oranye, dan banyak di dalamnya ( Djuhanda, 1982).

3.1.6 Opisthotrophis rugosa (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub filum : Vertebrata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub ordo : Sarpentes

Famili : Colubridae

Genus : Opisthotrophis

Spesies : Opisthotropis rugosa (Boie, 1827)

Ciri yang teramati dari Opisthotropis rugosa adalah memiliki panjang kepala (PK) 15 mm, panjang ekor (PE) 107 mm, panjang total (PT) 455 mm, diameter mata (DM) 1mm, panjang moncong (PM) 9 mm, bentuk kepala (BK) bulat, sisik temporal (ST) ada, bentuk rostral (BR) Blunt, loreal ped (LP) tidak ada, bentuk papilae (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, jumlah sisik infraokuler (JSIO) 2 buah, jumlah sisik supraorbital (JSSO) 1 buah, sisik loeal (SL) 3 buah, jumlah sisik supra loreal (JSSL) 11 buah, jumlah sisik infra loreal (JSIL) 12 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 14 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 160 buah, jumlah sisik ekor (JSE) 75 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Djuhanda (1982) bahwa Opisthotrophis rugosa memiliki bentuk seperti sisik ventralnya yang berkembang dengan baik dan melebar sesuai dengan lebar perutnya. Kepala berbentuk oval dengan sisik-sisik yang tersusun dengan sistematis. Ekor umumnya silindris dan meruncing. Hewan ini pada umumnya tidak berbisa atau kalaupun berbisa tidak terlalu mematikan bagi manusia atau memiliki bisa menengah (Midle toxin). Gigi bisanya tipe proteroglypha dan pada umumnya bereproduksi secara ovivar

3.1.7 Xenodropis triangularis (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub filum : Vertebrata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub ordo : Serpentes

Famili : Colubridae

Genus : Xenodropis

Spesies : Xenodropis triangularis (Boie, 1827)

Ciri yang teramati dari Xenodropis triangularis adalah memiliki panjang kepala (PK) 32,30 mm, panjang ekor (PE) 181 mm, panjang total (PT) 825 mm, diameter mata (DM) 5,40 mm, panjang moncong (PM) 19,40 mm, bentuk kepala (BK) medium, sisik temporal (ST) ada, bentuk rostral (BR) tumpul, loreal ped (LP) tidak ada, bentuk papilae (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, jumlah sisik infraokuler (JSIO) 3 buah, jumlah sisik supraorbital (JSSO) 7 buah, sisik loeal (SL) 1 buah, jumlah sisik supra loreal (JSSL) 1 buah, jumlah sisik infra loreal (JSIL) 7 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 20 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 134 buah, jumlah sisik ekor (JSE) 50 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Djuhanda (1982) bahwa Xenodropis triangularis mempunyai ular ini memiliki ukuran tubuh yang ramping dan gesit dengan panjang tubuh maksimal mencapai 120 cm, namun umumnya sekitar 80 cm atau kurang. Pupil matanya membulat karena ular ini merupakan hewan diurnal. Xenodropis triangularis merupakan jenis ular dari famili Colubridae. Ular perenang ini dinamai demikian karena memiliki deretan segitiga kemerahan di kedua sisi tubuhnya. Karena itu ia juga dikenal sebagai ular sisi-merah, atau bahkan terkadang disebut dengan nama yang tidak tepat yaitu ular picung.

Xenodropis triangularis memiliki sisi bagian ventral bewarna coklat kelabu bercampur pola-pola hitam, dengan deretan segitiga terbalik kehitaman di atas berseling dengan segitiga kemerahan di bawah di sepanjang sisi tubuhnya. Warna kemerahan itu memudar di sebelah depan (dekat leher) dan sebelah belakang tubuh (perut hingga ekor). Kepala hijau zaitun sampai kecoklatan. Bibir, dagu dan tenggorok kuning. Terdapat beberapa coret hitam tipis di bibir atas, terutama di bawah dan belakang mata. Ventral (sisi bawah tubuh) berwarna keputihan, dengan belang-belang (perpanjangan segitiga gelap) di bawah ekor (Iskandar, 2000).

Xenodropis triangularis merupakan jenis ular yang aktif di siang hari (diurnal), ular ini terutama memangsa kodok dan ikan, meski tidak jarang pula memburu reptilia kecil seperti kadal Xenodropis triangularis menyukai wilayah perairan seperti aliran sungai, saliran, payau dan rawa-rawa, serta kolam-kolam ikan dan sawah. Sering dijumpai tengah berenang di sungai kecil atau saluran irigasi. Kadang-kadang bersembunyi sambil berendam di antara tanaman air. Meskipun demikian ular segitiga-merah sering pula naik dan tinggal di darat (Weber, 1915).

4.2 Kunci determinasi

1. a. Tidak ada occipital, premaxilla tidak bergigi ..............................................2

b. maxilla menonjol vertikal, pendek, gigi dapat dilipat ke belakang ................3

2. a. Terdapat gigi bisa besar beralur, letaknya di anterior rahang atas ..................Elapidae

b. tidak mempunyai gigi bisa, terletak di bagian poeterior ...............................Colubridae

3. a. Tidak mempunyai facial pit ......................................................................Viveridae

b. Penampang lintang ekor pipih, hidup di laut ..............................................Hydrophidae

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Boiga cynodon memiliki tubuh yang agak cokelat muda dengan palang-palang cokelat atau hitam yang gelap menjadi relatif lebih tebal ke arah ekor dan racunnya tidak berbahaya.

2. Dendrelaphis pictus memiliki warna tubuh coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung, kepala berwarna kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu, diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher bagian belakang

3. Gonyosoma oxycephalum memiliki warna dominan hijau di sepanjang punggungnya, dan kuning di sepanjang perutnya. Kepala hijau kekuningan, hijau zaitun atau kecoklatan di sebelah atas, dengan garis hitam melintasi mata, serta bibir yang berwarna kekuningan. Ekor kemerahan atau coklat muda keabu-abua. Sisik-sisik bertepi kuning atau gelap kehitaman.

4. Maticora bivirgata Tubuh berwarna biru gelap, dengan garis biru ringan di setiap sisinya kepala, ekor dan permukaan perut berwarna merah cerah. Memiliki moncong tumpul dengan sepasang mata kecil di sisi kepala.

5. Tropidolaemus wagleri muda memiliki berwarna hijau pucat terutama dengan band sempit, dan pada yang dewasa berwarna hijau gelap kekuningan dengan pita tebal

6. Opisthotropis rugosa memiliki kepala berbentuk oval dengan sisik-sisik yang tersusun dengan sistematis. Ekor umumnya silindris dan meruncing serta bisanya bersifat midle toxin

7. Xenodropis triangularis memiliki sisi bagian ventral bewarna coklat kelabu bercampur pola-pola hitam, dengan deretan segitiga terbalik kehitaman di atas berseling dengan segitiga kemerahan di bawah di sepanjang sisi tubuhnya

4.2 Saran

Dalam melaksanakan praktikum kali ini diharapkan kepada praktikan untuk lebih teliti dan cermat dalam pemilihan objek. Dalam melakukan pengukuran juga harus lebih teliti agar hasil yang didapatkan lebih akurat serta dalam pelaksanaan praktikum ini sebaiknya pratikan didampingi oleh asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2010a. Boiga cynodon. http://www.asiansnake.org/htm/species. 20 April 2010

Anonymous, 2010b. Reptilia .http://www.wordpress.com. 20 April 2010.

Anonymous, 2010c. Dendrelaphis pictus. http://www.eol.org/pages/211444. 20 April 2010

Anonymous, 2010d. Gonyosoma oxycephalum. http://id.wikipedia.org/wiki/geckonidae. 20 April 2010

Bennet, D.1999. Expedition Fieled Tachniques of Reptiland Amphibian. Royal Geografhycal: London

Brotowidjoyo.1989. Zoologi Dasar. Erlangga: Jakarta

Carr, A.1977. The Reptil he life. Time Books inc Alexandria

Djuhanda, T. 1983. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Amico. Bandung

Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Pebandingan Vertebrata I. CV. Armico: Bandung.

Goin, C. J and O. B. Goin. 1971. Intoduction to Herpetology. Second edition. WH. Freeman and Company. San fransisco

Iskandar, D. T. 2000. Buaya dan Kura-Kura Indonesia. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor : Indonesia.

Jafnir. 1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata. Universitas Andalas : Padang.

Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Jaya: Surabaya

Pope, CH. 1956. The Reptile World. Routledge and Kegal Paul Ltd : London

Tim Taksonomi Hewan Vertebrata.2010. Taksonomi Hewan Vertebrata. Universitas Andalas: Padang

Weber, M. 1915. The reptilia of The Indo-Australian Archipelago. Amsterdam

Yatim, W. 1985. Biologi jilid II. Tarsito: Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar